Apa Kata Dunia

Setelah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan, kini rupanya Hemri dan Borsi mulai menginjak ke tahap berikutnya, yaitu menggenapkan diennya dengan cara menikah. Entah kenapa atau karena memang bersaudara, Hemri dan Borsi merencanakan menikah dalam tahun yang sama.

"Wah gede amat nich anggarannya. Masak menikah saja butuh 36 juta?" kata Hemri melihat anggaran pernikahan Borsi.

"Iya, ini memang paket yang istimewa. Sebenarnya saya sich pengin yang sederhana aja. Hanya saja, saya kan gini-gini juga punya jabatan di kantor, terus orangtua calon istri saya, tokoh masyarakat. Kalo acaranya sederhana, 'apa kata dunia'?" kata Borsi menirukan jargon yang sering disebutkan dalam film Naga Bonar.

"Kan belum tentu masyarakat memuji ataupun mencela atas meriah atau tidaknya acara pernikahan akang. Namun, katakanlah masyarakat mengharapkan acara pernikahan akang meriah. Apakah mereka menanggung biaya pernikahan akang?" tanya Hemri.

Borsi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Akang punya dana sebesar itu?" lanjut Hemri.

Kembali Borsi menggelengkan kepala, terus ia menjawab, "Saya akan cari pinjaman."

"Nah, jadi yang bertanggungjawab atas pendanaan itu kan Akang, bukan 'orang-orang'. Kalo ternyata untuk pernikahan itu Akang banyak merugi, kan 'orang-orang' itu tidak dapat kita mintai tanggungjawabnya. Nah kalo gitu, kenapa Akang takut akan kata-kata orang? Kenapa Akang tidak mengambil sikap untuk melaksanakan pernikahan yang sederhana yang menurut Akang itu benar?" tanya Hemri.

"Kang, memang kita harus mendengarkan kata orang. Tetapi kita harus pilih-pilih mana yang diikuti mana yang tidak harus diikuti. Meski sudah menjadi kebiasaan bahwa mewahnya acara pernikahan menunjukkan prestise seseorang, kenapa tidak kita memulai dengan suatu pernikahan yang sederhana." ujar Hemri menegaskan kembali.

Borsi diam tertegun untuk sesaat, "Benar juga ya. Ini kan acara kami. Seharusnya kami yang bertanggungjawab penuh atas keputusan yang saya ambil."

"Esensi dari pernikahan kan ijab kabul, dan sosialiasasi tentang menikahnya dua insan. Nah, kenapa kita repot-repot dengan tambahan-tambahan yang menambah biaya? Akang kan nanti itu baru aja berumah tangga. Masih banyak kebutuhan yang lain. Belum lagi persiapan dana saat memiliki anak yang termasuk di dalamnya pendidikan yang makin mahal saat ini. Daripada untuk acara sehari, lebih baik untuk kebutuhan jangka panjang," Hemri kembali memberikan nasehat untuk Borsi.

"Terima kasih Hemri. Tentu saja saya tidak ingin gara-gara acara sehari, tetapi kemudian saya menderita untuk jangka waktu yang lama karena memiliki hutang yang banyak. Saya jadi sadar, kemuliaan atau prestise suatu pernikahan bukan pada mewah atau tidaknya acara, tetapi bagaimana rumah tangga kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah," ujar Borsi seolah sedang berceramah.

Sumber : Swadaya 50/Oktober2006

Next
Previous