Ketika Niat Terhalang Ortu

Beberapa orang teman pernah becerita mengenai niatnya untuk segera mengakhiri masa kesendirian. Dalam mewujudkan niat tersebut, mulanya lancar-lancar saja dan tidak ada kendala sama sekali. Akan tetapi, ketika memasuki tahap izin orangtua, selalu mengalami kegagalan alias tidak mendapat restu dari orangtua.

Kenapa demikian? Entahlah...

Salah seorang teman mengemukakan, orangtua si akhwat tidak setuju lantaran ia pegawai kontrak, beda suku, postur tubuh tidak ideal. Ya, teman saya ini memang demikian. Tapi, sampai begitukah sikap orangtua dalam menilai seseorang yang hendak menjadi suami anaknya? Duh...

Teman yang lain pun bercerita, langkahnya mental karena orangtua si akhwat tidak setuju dengan pekerjaannya yang bukan Pegawai Negeri Sipil. Kenapa? Karena si anak perempuannya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil golongan menengah di sebuah instansi 'basah'. Walah...

Lain lagi dengan teman yang satu ini, ia bercerita mengenai kegagalannya dalam mewujudkan niat suci ketika orangtua si akhwat mempermasalahkan biaya nikah yang dimiliki teman saya hanya cukup untuk mahar dan proses akad, tidak cukup untuk mengadakan resepsi. Fiuh...

Sebenarnya masih ada beberapa teman lain yang mengalami 'kegagalan' karena hal yang serupa. Tapi, cukuplah ketiga permasalahan tersebut yang saya ungkapkan. Dari ketiga cerita teman saya itu, dapat disimpulkan bahwa ternyata ada orangtua yang mempermasalahkan materi sebagai syarat nomor 1, bukannya aqidah dan akhlak. Hmm...

Memang wajar jika orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, apakah mereka lupa atau belum tahu tentang janjiNya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui." (QS. 13 : 38)?

Menyikapi hal tersebut, ada di antara kita yang bilang, "Mungkin bukan jodohnya." Ya, memang benar, mungkin kegagalan tersebut sebagai tanda bahwa kita tidak berjodoh dengannya. Tapi, itu bukanlah sebuah dalih. Menurut saya, kalau semua hal sudah diusahakan dengan maksimal, namun ternyata tidak jadi menikah, itu baru namanya tidak berjodoh.

Lantas, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?

Di sinilah perlunya peran aktif kita untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada orangtua, khususnya pemahaman tentang pernikahan, keluarga, dan lain sebagainya ditinjau dari sudut pandang agama. Dan yang terpenting, niatkan karena Allah SWT dan serahkan semua itu padaNya.

Sumber : http://mtks.kotasantri.com
Next
Previous