Mengejek Episode Baru

Aku mungkin tidak terlalu romantis
Namun liku hidupku cukup fantastis
Itu pula yang membuatmu memanggilku Bidadari
Meski sesungguhnya, aku hanyalah perempuan biasa
yang berusaha mencinta, memberi, mendo'a
Dengan setulus hati...

(For my husband : Dani Ardiansyah...)

Hari itu, 18 Agustus 2007, merupakan momentum besar dalam hidupku. Saat ikrar suci terucap, dimana Allah dan para malaikatNya langsung menjadi saksi. Saksi atas pernikahanku dengan seseorang, yang bahkan belum lama kukenal. Meski begitu, aku meyakini bahwa dia adalah bagian dari skenario terindah yang disiapkanNya untukku. Dengan kesadaran bahwa wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik. Dikuatkan dengan keyakinan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya. Karenanya, aku hanya berprasangka yang baik-baik saja. Termasuk dalam pernikahan ini.

Dua hal itulah yang membuatku begitu tenang menghadapi saat-saat itu. Justru orang-orang di sekitarku yang begitu gundah dan mencemaskanku. Bayangkan saja, Sabtu menikah di Bogor, Kamisnya aku masih bekerja di Bandung sampai sore. Jum'at paginya baru berangkat ke Jakarta, seorang diri. Jika ada nominasi pengantin super nyantai, mungkin aku termasuk di antaranya. Hingga seorang ibu yang duduk di sampingku dalam perjalanan menegur, "Mau skripsi, Neng?" Pertanyaan atas aksiku yang membaca kertas-kertas materi pernikahan mulai dari awal perjalanan di Bus Leuwi Panjang - Kampung Rambutan, menuju ke rumah kakak di Cipinang, Jakarta. Dengan tenang kujawab, "Nggak kok, Bu. Besok saya mau nikah." Si ibu semakin kaget, "Besok mau nikah, kok sekarang masih jalan-jalan..."

Jum'at sore aku berangkat ke Bogor, bersama kakak, adik, dan ortu. Kami menuju rumah sepupu di daerah Warung Jambu, Bogor. Sore harinya, calon pengantin laki-laki datang bersama keempat temannya. Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan ortuku. Maksud kedatangannya adalah silaturrahim dan koordinasi untuk acara esok hari. Tadinya, aku memilih untuk sembunyi, tidak menampakkan diri. Nyatanya, bapak malah memanggil dan diminta untuk mengenalkan diri.

Malam harinya, aku masih jalan-jalan ke Mall sama si Fendi, adikku satu-satunya. Perjalanan yang jauh itu kutempuh dengan berjalan kaki pulang pergi. Alhasil, semua orang geleng-geleng kepala karenanya. Muter-muter di Mall untuk belanja kebutuhan adik, awalnya menjadi tujuan utama. Sekadar untuk menyenangkan saja. Hingga kemudian teringat kebutuhan penting untuk esok hari yang lupa terbeli, buku tamu. Memandang malam di Bogor, duduk di pinggiran Mall, menikmati teh Botol. Kuucap pada malam, inilah saat terakhirku dalam kesendirian.

Sabtu pagi, ortu dan saudara-saudaraku berteriak. Ketika mereka sudah bersiap berangkat, aku justru dengan tenangnya masih di kamar mandi. "Jika nanti telat, maka yang membuat telat justru mantennya sendiri," teriak saudara sepupuku. Bercanda. Benar juga, kami datang terlambat. Ternyata rumah Pangeranku ini lumayan jauh di pelosok Bogor. Belum lagi kendala jalan ditutup untuk perlombaan Agustusan, yang membuat kami putar jalan kembali. Lengkap sudah ulahku ini membuat cemas banyak orang. Ibu mertua yang sudah bolak-balik ke jalan, menunggu calon menantu yang belum pernah sekalipun dilihatnya.

Hampir pukul sembilan, aku baru menjejak rumah itu. Berpasang-pasang mata tampak tertuju ke arahku. Satu alasan, mereka penasaran dengan calon pengantin perempuan, dimana mertua, saudara, apalagi tetangga belum pernah sekalipun melihatnya. Seperti membeli kucing dalam karung, menjadi pengibaratan yang pas dalam kasus ini, meski calon suamiku selalu memanggilku dengan sebutan Bidadari. Dan akhirnya, sosok yang mereka tunggu-tunggu datang dengan penampilan khasnya : t-shirt coklat, jilbab kaos, dan sendal jepitnya.

Masuk di gerbang rumah, seorang ibu segera menyambutku. Dengan ramah dan haru yang berbaur menjadi satu, beliau mengaku kalau ia adalah sang ibu dari calon suami. Ada kelegaan terpancar di wajahnya. Setidaknya beliau berpikir, ternyata anakku tidak salah pilih. Setelah memelukku, aku diajak ke kamar untuk dirias. Sembari itu, aku mendengar prosesi akad nikah berlangsung. Ada perasaan lain saat ikrar itu terucap. Aku sudah sering mendengarnya. Namun, kali ini terasa jauh berbeda. Ikrar itu ditujukan untukku. Pernikahan yang tidak hanya kuanggap sebagai perubahan status, apalagi untuk sekadar bersenang. Jauh lebih dari itu. Ada amanah besar yang diemban. Ada visi hebat yang hendak diraih.

Prosesi selanjutnya adalah tanda tangan bukti nikah, pemberian mahar, dan sungkeman. Semua berjalan lancar dan mengharukan. Meski sederhana, semuanya terasa penuh makna. Ada tangis, ada senyum, ada haru, ada cinta semua berbaur menjadi satu. Hingga hari ini, aku masih merasa seperti mimpi. Semuanya berjalan begitu cepat. Termasuk hari ini, Pangeranku telah kembali ke Jakarta. Namun aku yakin, jiwa ini telah menyatu. Berikrar untuk saling menguatkan, saling mengingatkan, saling mendo'akan, dalam naungan cintaNya. Semoga, episode baru ini menjadi satu lompatan untuk meraih ridhaNya. Hingga bisa kembali bersua, di taman surga yang sangat dirindukan. Semoga...

Sumber : http://mtks.kotasantri.com
Next
Previous