Ajari Aku...

“Lama tidak ketemu, saya kira kau telah berubah. Ternyata tidak. Kau masih saja keras, to the point. Tidak suka bertele-tele. Tidak bisakah kau sedikit berbasa-basi, atau memilih ejaan kalimat yang lain? Tidakkah waktu merubahmu?”

Penggalan kalimatnya malam itu tajam menusukku. Telak.


“Lama tidak ketemu, saya kira kau telah berubah. Ternyata tidak. Kau masih saja keras, to the point. Tidak suka bertele-tele. Tidak bisakah kau sedikit berbasa-basi, atau memilih ejaan kalimat yang lain? Tidakkah waktu merubahmu?”

Penggalan kalimatnya malam itu tajam menusukku. Telak. Di ruang tamu yang ramai, bibirku masih tetap membentuk lekukan senyum yang sama. Tarikan sudut yang pernah dengan sangat perlahan disampaikan oleh seorang yang di suatu putaran sejarah pernah dekat bahkan sangat akrab, -susah untuk ditafsirkan-.

“Aku punya alasan, mengapa aku melakukan ini semua.” Hanya itu yang sempat kukatakan.

--- --- --- --- ---

Sungguh, jujur kukatakan kepadamu wahai engkau para perempuan. Aku adalah manusia yang sangat kagum pada sosokmu. Pada kesempurnaan penciptaanmu. Pada kelembutan, kasih sayang, cinta, kehangatan, struktur emosional, keluwesan, perhatian besar, dan ketelitianmu sampai hal-hal kecil yang kadang dianggap sepele oleh kaum adam.

Aku tahu meskipun mungkin belum terlalu paham, kau tidak terlalu butuh dengan keakuratan fakta-fakta. Ketelitian sebuah bahasa yang logis dan mendetail yang bisa disampaikan dengan sangat mudah oleh laki-laki. Atau argumentasi hebat dalam sebuah forum diskusi.

Aku tahu meskipun [sekali lagi] mungkin belum terlalu paham. Perhatian, jaminan rasa aman, ungkapan lembut yang berarti, perlindungan, adalah hal yang bisa menentramkan hatimu.

… Aku pernah begitu perhatian di suatu putaran masa di waktu lalu. Mempraktekkan semua teori komunikasi yang kumengerti dari hasil bacaan dan interaksi langsung. Dan alhamduliLlah, lingkungan pergaulanku menjadi diameter tak berlimit. Akrab sampai ke lingkaran keluarga sekalipun Sampai saat itu mulai nyata. Ketika sebagian mereka tak lagi canggung untuk menyentuhku. Banyak yang mulai bertingkah makin aneh.Dan aku mulai resah, bahkan marah. Sungguh, ungkapan kalimat, surat, sms, atau telfon mungkin masih bisa kutolerir. Namun, memelukku dari belakang secara tiba-tiba atau di depan banyak orang, bagaimana semua ini harus kumengerti dengan alur idealisme yang kupegang?

Bukan…bukan sombong seperti kata kaummu ketika aku hanya merangkapkan kedua tangan di depan dada saat mengajak bersalaman atau berkenalan. Aku hanya tidak ingin menyentuh kehalusan kulit tanganmu yang aku tak memiliki hak di sana. Bukan…bukan egois ketika tidak membalas surat, sms atau tidak menanggapi percakapanmu di telfon. Aku hanya tidak ingin membuka pintu lagi agar setan bisa makin leluasa mempermainkan perasaan dalam hati kita. Bukan…bukan angkuh ketika aku menolak sentuhanmu di bahu atau lenganku. Aku hanya tak menemukan alasan yang membenarkan tindakan itu. Bukan…bukan tidak menghargai ketika aku tak menatap langsung ke bola matamu ketika berbicara, semata menghargai saja. Sebab kebeningan yang memantul di sana bukan milikku.

Namun, ketika aku memilih sikap seperti sekarang… apakah aku salah. Ajari aku kalau begitu. Tolong, ajari aku mengerti tentang perempuan. Ajari aku mengenal alur berpikir mereka. Tentang pilihan hidup yang historikal logika dan perasaannya. Ajari aku agar tak lagi membuatnya menangis. Ajari aku … … … Ajari aku… … …

--- --- --- --- ---

“Engkau mungkin merasa aman dengan pilihan yang seperti itu. Tapi tidakkah kau berpikir, bahwa banyak yang sakit hati dan terluka dengan tindakanmu yang seperti itu? Minimal, sikapmu kepada istrimu kelak tidak seperti itu.”

Spontan saja aku tertawa. “Jelaslah, kalo sama istri mah lain lagi persoalannya. Insya Allah masih banyak sisi lain, yang orang lain belum tahu tentangku. Biarlah kelak, cukup istriku saja yang mengetahuinya”

--- --- --- --- ---

Robbi, sebegitu rumitkah memahami makhluk-Mu yang bernama perempuan?

( Muhammad Ilham / http://ilomovic.blogspot.com)
Next
Previous