Menikah atau Kuliah?

Oleh Nihayatul Wafiroh

Seorang teman perempuan datang kepada saya lalu “curhat” tentang problemnya. Dia
katakan bahwa sejak lama dia telah merencanakan untuk menikah, namun seringkali mengundurkan niatnya dengan berbagai alasan. Satu alasan utamanya adalah bahwa dia dan calon pasangannya ingin terlebih dahulu menyelesaikan kuliah mereka yang saat ini menginjak bulan-bulan terahir di tingkat Master. Selain itu, salah seorang sahabat saya di kampung harus pupus cita-citanya untuk melanjutkan pendidikannya ke sebuah SLTA, karena orang tuanya hendak mengawinkannya dengan seorang kerabat yang masih tetangga desa. Di luar mereka berdua, banyak perempuan gagal untuk meraih cita-cita yang telah digantungkan setinggi langit karena alasan biaya, sehingga terpaksa memilih bekerja untuk menyambung kehidupannya. Bagi kebanyakan perempuan, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah impian yang sulit untuk diwujudkan.

Teman saya ini adalah seorang pekerja keras dan keinginannya untuk mengembangkan diri sangat besar. Dia tidak pernah patah arang untuk mencoba peruntungannya dengan cara mengirimkan formulir lamaran beasiswa agar bisa kuliah di luar negeri. Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah beberapa kali lamaran beasiswanya mengalami penolakan demi penolakan, kini dia mendapatkan tiga kesempatan sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan. Baik itu untuk belajar ke luar negeri melalui berbagai macam progam mulai sekedar kunjungan riset, untuk hadir dan mengikuti seminar hingga melanjutkan kuliah. Namun di sisi lain rencana pernikahannya telah matang dan semua jadwal beasiswa yang diterimanya tumpang tindih dengan agenda pernikahannya. Peristiwa inilah yang memunculkan kebingungannya untuk memilih. Apakah ia mesti menunda pernikahannya untuk kesekian kali dan memutuskan mengambil semua peluang belajar yang datang? Atau malah mesti memilih sebaliknya, membatalkan satu atau dua kesempatan belajar di luar negeri dan menyiapkan pernikahannya?.

Situasi yang dialami teman saya tersebut sangat sering terjadi di kalangan perempuan. Perempuan seringkali dihadapkan pada persoalan untuk memilih antara melanjutkan pendidikan atau menikah. Dan justru banyak dari mereka yang pada akhirnya memilih untuk menikah dari pada mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pertanyaan besarnya kemudian adalah, kenapa itu bisa terjadi?

Fenomena tersebut bisa kita telisik melalui kaca mata ilmu sosiologi. Pertama terdapat banyak pendapat yang mengatakan bahwa bagi kebanyakan perempuan, menjadi seorang ibu dan istri adalah hal terpenting dalam hidup mereka. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Anne Wilson Schaef dalam bukunya Women’s Reality: An emerging Female System in A White Society. Menurut Schaef, “the perfect marriage” atau perkawinan yang sempurna adalah dambaan bagi semua perempuan. Konsep ini terlahir dari proses pembelajaran yang diterima oleh seorang perempuan sejak kecil dari lingkungan sosialnya. Seperti yang sering kita lihat, masyarakat Indonesia selalu memberikan tempat yang sangat tinggi bagi perempuan-perempuan yang sukses di rumah tangganya. Dia diharapkan dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan istri yang sangat patuh dan bisa membahagiakan suami. Masyarakat juga berpandangan sinis bila perempuan dalam usia yang sudah kepala tiga masih berstatus single.

Masyarakat seringkali memandang bahwa kesuksesan seorang perempuan tidak diukur dari seberapa pintarnya dia, dan seberapa tinggi karir yang telah dicapainya, tapi dipandang dari seberapa sukses dia sebagai ibu dan juga istri. Semua stereotype tersebut telah diserap oleh perempuan sejak kecil, dan mengakar kuat dalam dirinya, hingga seolah-olah telah menjadi bagian yang harus dijalani perempuan. Oleh sebab itu tidaklah heran bila banyak perempuan yang lebih memilih jalan mengorbankan studi atau karirnya untuk mewujudkan impian sebagai sosok perempuan ideal tersebut.

Kecenderungan perempuan untuk menghentikan karirnya demi untuk menikah juga bisa ditelusuri dari pandangan misoginis yang melihat perempuan sebagai penyebab dosa (the original sin of being female) atau “dosa asal semenjak ia dilahirkan”, seperti yang dipaparkan Schaef dalam bukunya. Sejauh ini sejarah dari isu mengenai “dosa asal” atau original sin selalu dikaitkan dengan kisah Adam dan Hawa. Dalam kisah tersebut dikatakan bahwa kejatuhan Adam dari surga disebabkan rayuan Hawa untuk memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Dalam penuturan kisah semacam, Hawa diposisikan sebagai sosok yang membawa kerusakan.

Penuturan berbagai cerita tersebut membawa implikasi pada munculnya banyak fenomena, salah satunya adalah perasaan rendah diri (inferior) pada perempuan. Rasa inferioritas ini mendorongnya untuk mencari pihak-pihak yang bisa membebaskannya. Selama ini, karena laki-laki yang merupakan sosok yang posisinya selalu diletakkan sebagai pihak yang dominan, maka dia dipandang sebagai figur yang tepat untuk membantu perempuan keluar dari inferioritasnya. Perasaan inferior juga mengantarkan perempuan untuk selalu membutuhkan perlindungan. Dalam psikologi, fenomena ini sering diistilahkan dengan Cinderella complex. Sejak kecil, anak perempuan dikondisikan untuk cenderung memilih kisah-kisah romantis yang berakhir dengan happy ending dimana tokoh utamanya adalah perempuan cantik tapi lemah dan tidak punya daya dan kuasa untuk mengambil keputusan atas kehidupannya. Lalu datanglah lelaki perkasa dan biasanya tampan, datang menyelamatkan perempuan itu, memberi janji kehidupan yang bahagia selamanya.

Schaef berpendapat bahwa sentuhan adalah salah satu cara untuk mencapai keinginan-keinginan untuk merasa terlindungi. Dari sentuhan, perempuan bisa merasakan ada pihak superior yang melindunginya. Perempuan juga bisa seperti terangkat derajatnya bila dia disentuh oleh pihak superior, yakni laki-laki. Melalui hal ini, perempuan merasa bahwa dia dibutuhkan oleh laki-laki dan ini memiliki makna bahwa dia memiliki derajat yang sama dengan laki-laki. Hal ini merupakan alasan mengapa perempuan sangat menyukai sentuhan.

Bila kita coba kaitkan dengan “curhat” teman saya di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara sentuhan dan menikah. Bagi masyarakat Indonesia yang sangat kuat memegang kultur ketimuran, untuk mendapatkan sentuhan, perempuan harus menikah. Oleh sebab itu, tidak heran bila perempuan cenderung memutuskan untuk “menikah” dan mengubur semua idealismenya, termasuk melepaskan kesempatan pendidikan.

Dari pemaparan di atas kita bisa melihat, bahwa keinginan menikah dan menjadi seorang ibu serta istri bukan hanya terlahir secara naluriah, seperti yang dikatakan banyak perempuan, tapi hal tersebut merupakan hasil dari banyak proses sosial. Termasuk melalui petatah-petitih para orang tua maupun berbagai dongeng yang mengkonstruksi perempuan untuk berbuat “seperti apa seharusnya” dia berbuat. Kenyataan yang ada, proses sosial di masyarakat Indonesia masih kuat dibalut kultur patriakhi. Hal ini pada gilirannya memunculkan ironi-ironi termasuk ketika perempuan memutuskan langkah ke depan antara memilih menikah atau melanjutkan studi. ]


(Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur. Kini tengah melanjutkan studinya pada Departemen Sosiologi pada University of Hawaii, Amerika Serikat)



Next
Previous