Unsur Agama Kultur Dalam Upacara Pernikahan


Karya : Risalah Online

shidiq-weddingcard.co.cc - Diakui atau tidak, upacara pernikahan (walimatun nikah) pada sebagian besar ummat Islam seringkali dimasuki unsur adat istiadat suatu daerah. Sebagian
mereka menganggap hal itu sebagai bagian dari ajaran Islam. Dan tidak
sedikit yang menganggapnya sekadar adat keduniaan. Tetapi ternyata
upacara-upacara seperti itu bukan bagian dari syari'at Islam, melainkan
sebagiannya berasal dari agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan di luar
Islam, terutama berasal dari agama-agama kultur. Drs AD El Marzdedeq, AV,
lulusan Sejarah Agama PTIS tahun 1970, Avasinolog lulusan Ma'had At-thib
Al-Islami Jakarta tahun 1966, dan penulis buku Parasit Aqidah ini,
menjelaskannya kepada RISALAH. Berikut petikan wawancaranya?

Dalam upacara adat pernikahan di kalangan ummat Islam, seringkali dimasuki
unsur-unsur agama lain. Apakah benar demikian?

Memang betul, dalam upacara pernikahan di kita banyak hal-hal yang dianggap
oleh sebagian ummat Islam berasal dari ajaran Islam atau bahkan dianggap
sekadar adat keduniaan. Tetapi ternyata upacara-upacara seperti itu tidak
terdapat dalam sumber hukum Islam, yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Saw,
melainkan berasal dari agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan di luar
Islam, terutama berasal dari agama-agama kultur.

Misalnya apa saja?
Misalnya upacara sawer, itu berasal dari agama kultur di Cina dan Asia
Tenggara pada umumnya. Di sana ada upacara yang bernama "tabur beras".
Upacara itu ada kaitannya dengan kepercayaan mereka terhadap Dewi Padi.
Menurut kepercayaan mereka, tersebutlah pada suatu waktu Yang dan Yin hendak
mendirikan sebuah istana baru di langit ke sembilan. Dewi-dewi pun
disuruhnya mengangkut bahan-bahan. Semua Dewi bekerja, tetapi Yang penurun
hujan hanya menangis karena tidak dapat membantu. Dari air matanya menjelma
sebutir telur, lalu Yang menyuruh Naga untuk mengeraminya, sehingga
menetaskan seorang gadis yang cantik, bernama Lo Yien (Dewi Padi). Gadis itu
diangkat anak oleh Yang dan Yin.
Ketika gadis itu menginjak remaja dan tampak kecantikannya Yang jatuh berahi
kepadanya, sehingga antara Yang dan Yin terjadi pertengkaran. Alam sakit
begitupun manusia, padahal semula manusia tidak pernah sakit dan tidak
mengenal makan. Yin pun menjadi cemburu kepada Lo Yien. Lo Yien diberinya
buah ajaib, yang ketika dimakan Lo Yien langsung mati. Maka dikuburkanlah
ia. Tidak berapa lama keluarlah dari kuburnya padi, pulut dan
tumbuh-tumbuhan. Manusia pun menjadi lapar. Yang dan Yin menyuruh
pembantunya untuk menurunkan beras ke bumi dalam keadaan sudah masak.
Namun karena ulah laki-laki yang ingin serba tahu timbullah kesukaran,
sehingga padi itu harus ditanam, ditumbuk, dan dimasak.
Dari sanalah kemudian mereka memuja Dewi Padi. Pemujaannya antara lain pada
musim menanam padi, mengetam dan menyimpan padi di lumbung, pada hari-hari
tertentu, dan termasuk upacara menabur beras kuning atau sawer dalam upacara
perkawinan.

Apakah benar dalam ajaran mereka juga ada upacara "Sembahyang Perkawinan"?
Memang betul. Dalam ajaran mereka ada beberapa macam sembahyang,
Ada sembahyang ketika pendirian rumah baru, sembahyang menjelang gadis,
sembahyang bersalin, dan termasuk sembahyang perkawinan.
Sembahyang perkawinan dilakukan manakala seorang gadis telah mendapatkan
jodoh. Ia dipertunangkan dan dikawinkan dengan upacara. Kawin yang umum
ialah kawin beli. Dan ada kebiasaan, jika memiliki anak kembar sepasang
dipisahkan dan setelah dewasa dikawinkan.
Pengantin dimandikan dan diperciki air berkat lalu disisir oleh seorang
anak-laki-laki kecil, Dipertemukan, disandingkan, dan ditepungtawari, beras
kuning pun ditabur untuk mencari kerelaan Dewi Padi. Sembahyang perkawinan
dilakukan sejodoh, menghadap patung Dewa jodoh.
Lepas dari kawin terdapat upacara "Pecah Dara" dengan membagikan makanan
pada tetangga, melepaskan kambing, burung atau kura-kura kecil
berpuluh-puluh ekor.

Kalau upacara "Mandi Kembang" dari ajaran mana?
Mandi Kembang, Ketuk Pintu, Menginjak Telur, dan Tanya Jawab itu dari agama
Brahman, yaitu agama Kultur Aria India. Dalam Kitab Wedaparikrama (Kitab
Perkawinan), lepas Swayamwara bagi seorang Ksatria dan lepas pembayaran
seolah membeli suami bagi kasta Waisya, terdapat upacara "Mandi Kembang"
yang diteruskan dengan meminta berkat orangtua dengan mencucui kakinya dan
bersujud kepadanya, menyalakan pelita saji dan menyalakan dupa, sajian di
antaranya untuk Dewa Kama dan Dewi Rati, "Ketuk Pintu", dan "Tanya Jawab"
agar terbuka berkat dan terhindar dari Dewa Perintang. Kemudian "Menginjak
Telur" untuk Dewa Parnipa (Dewa Pengurus Kaki), "Mencuci Kaki Suami dan
Menicumnya", "Bersanding dengan selembar kerudung berdua" dengan sikap
tangan menyembah, "Memercikan air suci" dan "Pembacaan mantra-stotra" oleh
seorang Brahmana, "Makan Sepiring Berdua" dan "Suap Menyuapi" yang dalam
adat sunda disebut Huap Lingkung, "Tabur Bunga Rampai", melepaskan sepasang
merpati untuk Indra (Dewa Angkasa), dan menari.
Dalam upacara itu ada Salam pada tamu Dewa, yang dilakukan dengan
mengatupkan kedua belah telapak tangan ditaruh di dada, sambil berdiri atau
bersimpuh, sedangkan untuk Dewa adakalanya diangkat ke atas lalu bersujud
pada patungnya.
Dalam ajran Brahman juga ada tuntunan hidup bersuami istri dan pelajaran
seks. Kitab tuntunan bersuami istri telah lama dikarang dan kelak disadur
yakni salah satunya kitab "Kamasutra".

Selain kedua ajaran di atas, ajaran agama mana lagi yang memiliki upacara
pernikahan?
Di dalam ajaran ummat Yahudi juga ada upacara pernikahan. Mereka punya
upacar-upacara tertentu. Di dalam Kitab Yehezkil disebutkan "Maka adalah
keadaan pengantin laki-laki itu ia berpakaian serba indah, bercelak matanya
dan berharuman dengan minyak narwastu lalu diarak oranglah untuk mendapatkan
pengantin perempuannya itu. Maka akan hal pengantin perempuan itu sesuai
berlaku adat padanya, ia berpakaian serba indah, berkalung permata dan
bergelang tangan dan kakinya. Maka pengantin perempuan itu duduk di
pelaminan dan wajahnya pun bercadarlah kerudung sehingga tertutuplah ia.
Hatta manakala pengantin laki-laki hendak mendapatkan ia maka berlakulah
adat bertanya jawab lalu iapun masuk dan ia pun menyingkapkan kerudung
penutup wajah dan kepalanya itu, seraya ia berbaca: "Dengan nama Tuhanmu
Hua, Elohim yang amat pengasih dan amat penyayang." Maka serta dijawab
pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki, katanya: "Semoga Elohim, Hua
Tuhanmu memberkatimu." Maka keadaan pengantin perempuan itu terlalu amat
malu tampaknya, dalam ketika ia menyampaikan jawabannya itu. Maka kedua
pengantin itupun bersandinglah dan kepala keduanya pun berkerudung dengan
selembar kain, yakni pengantin laki-laki menundukkannya pada pengantin
perempuannya itu, demikianlah adat pengantin menurut tatacara Israel itu.
Dan bersetuju dengan firman Hua: :Aku pun mengembangkan sayapku atasmu dan
menudungilah ketelanjanganmu dan akupun bersumpah setia kepadamu dan aku pun
masuk janjilah dengan dikau, demikianlah firman Hua maka demikianlah engkau
telah menjadi aku punya." (Yehezkil 16:8).
"Maka demikianlah berlaku adat pula jika ia mau memadu kawin kepada seorang
perempuan sahaya yang ia beli, karena sesungguhnya seorang laki-laki itu
bolehlah ia bersitri lebih daripada seorang dan tiada sedikitpun ia tercela,
sepanjang tiada larangannya akan wasiat Imam dan ini pun telah berlaku bagi
Raja Daud dan Raja Sulaiman dan raja-raja kemudian daripada ia." (Wasiat
Imam 46:16-18)

Di dalam ajaran Islam ada istilah hitbah sedangkan di luar Islam ada upacara
"tukar cincin". Nah, sebetulnya upacara "tukar cincin" itu dari ajaran mana?
Ritus Tukar Cincin itu sebenarnya dari agama Yunani dan Romawi Kuno. Dalam
pandangan mereka cincin kawin itu dikeramatkan dan dianggap sebagai
pengganti alat pengikat dari Cupido. Jika cincin itu jatuh, dianggap
berbahaya pada jenjang perkawinan, maka dibuatlah penangkal-penangkal. Bila
hujan selalu turun dan mengganggu upacara, diletakannya cincin itu di
halaman dan disajikannya sajian pada Cupido dan Dewa Penurun Hujan. Di dalam
Islam tidak ada tukar cincin. Semua itu tidak diajarkan oleh Nabi SAW.
Ritualnya begini, calon pengantin diikat dan dibawa dalam sebuah kereta.
Lalu Cupido memberi jalan pengganti dengan ikatan cincin. Cincin laki-laki
diberikan pada perempuan dan cincin perempuan diberkan pada laki-laki.
Cincin itu dikenakan pada jari manis. Tukar cincin merupakan pengikat cinta
dan Amor pun turun melepaskan anak panah pada hati keduanya. Ada tukar
cincin yang langsung diikuti perkawinan dan ada yang ditangguhkan.

Lalu, dalam ajaran agama Yunani dan Romawi sendiri bagaimana upacara
perkawinannya?
Ritus Perkawinannya begini, pengantin duduk berkerudung kuning lalu
diperciki air oleh pendeta. Hadirin menyanyikan pujaan untuk Dewa Hymen,
lalu dinyalakannya pelita dua buah atau lilin dua batang.
Upacara perkawinan dilakukan di kuil atau di rumah keluarga perempuan.
Disajikannya makanan dan minuman "prodeo" di antaranya untuk Amor. Roti
pengantin dipotong dan dibagikan pada bujang dan dara, agar lekas mendapat
kawan hidup.
Pada awal perkawinan seorang Ksatria terdapat pula sayembara, lalu jika
lepas upacara peresmian di kuil, kedua pasangan itu melalui lorong manusia
di bahwah silang pedang.

Katanya dalam ajaran mereka juga ada istilah "kawin emas" dan "kawin perak"?
Memang betul. Itu istilahnya Pesta pembaharuan kawin. Jika usia perkawinan
mereka sudah menginjak enam seperempat tahun diadakan kawin perunggu. Jika
sudah duabelas setengah tahun, diadakan upacara kawin tembaga. Jika duapuluh
lima tahun disebut kawin perak. Jika limapuluh tahun kawin emas dan jika
lebih dari tujuthpuyluh lima tahun diadakan kawin berlian.
Pada ulangtahun perkawinan itu dinyalakan dua batang lilin besar, lalu
diperhatikan mana yang lebih dulu habis, karena dianggap melambangkan
siapakah di antara mereka itu yang lebih dulu mati.
Upacara tukar cincin, perkawinan dan ulangtahun perkawinan Yunani dan Romawi
hampir sama, hanya ada sedikit perbedaan dalam cara berpakaian.
Masing-masing memuja Amor dan Venus.



sumber : tentang-pernikahan.com

Next
Previous