Menikah Saat Kuliah, Terhadap Peluang dan Tantangan

shidiq weddingcard-Menikah saat kuliah memilki dua sisi serius: peluang sekaligus tantangan.

Beberapa peluang dapat dicapai ketika menikah saat kuliah, antara lain:

Masa kuliah adalah masa pembentukan jiwa seseoarang menuju kedewasaan berpikir, sikap, dan sosial. Pada saat kuliah seorang mahasiswa dituntut untuk bisa mendewasakan diri, pemikiran, sikap, kejiwaan dan lain sebagainya. Pada masa kuliah itu pula kemandirian untuk menempa diri dengan segala keterbukaan dan kebebasan bisa diraihnya. Kegagalan dalam membentuk kepribadian semasa kuliah, melahirkan kemungkinan besar akan kegagalan pasca masa kuliah. Menikah di masa kuliah merupakan lahan untuk berlatih bertanggung jawab secara langsung bagi kedua pasangan.

Masa kuliah itu juga merupakan peluang untuk mencari pasangan hidup baik suami maupun istri. Banyak pilihan dan alternatif. Peluang itu mungkin tidak kita dapatkan pasca kuliah. Mencari pasangan dimasa kuliah adalah kesempatan.

Adanya keinginan kuat untuk memulai kehidupan rumah tangga lebih awal, sehingga mampu mendekatkannya dengan idealisme: "menjaga kesucian diri" yang diharapkan juga mampu membantu menyelesaikan proses perkuliahan

Namun menikah saat kuliah juga mempunyai banyak tantangan, antara lain:

1. Kondisi mental dan pemikiran yang sedang berproses menuju kematangannya

2. Kuliah yang belum selesai dan perlu keseriusan untuk menyelesaikannya

3. Kondisi finansial yang belum bisa dibilang mapan

4. Orangtua belum tentu mengizinkan, karena dikkhawatirkan akan mengganggu kuliahnya

Karenanya, menikah saat kuliah merupakan hal yang mungkin dan bukan mustahil, bila pasangan calon suami istri sudah mengadakan persiapan-persiapan yang matang. Namun akan menjadi masalah bila tidak ada persiapan sama sekali.



Motivasi dan Orientasi Menikah

Menikah memiliki banyak dimensi motivasi. Motivasi menikah selain ia sunnah Rasulullah, ia adalah juga tuntutan, antara lain:

1. Tuntutan syariah

Syariah Islam menuntut kita untuk melaksanakan nikah. Banyak keutamaan dari ibadah menikah ini. Bahkan Islam mengahramkan rahbaniah: tidak menikah. Ia adalah Sunnah Rasulullah, barangsiapa yang ingin mengikuti dan diakui sebagai umat Rasulullah, saw hendaknya ia menikah, walaupun secara hukum fikih, menikah; bisa wajib, bisa sunnah, bisa makruh, bisa mubah dan bisa haram.

2. Tuntutan Fitrah

Tuntutan menikah juga merupakan tuntutan fitrah. Manusia bisa hidup bahagia bersama fitrah kemanusiaannya. Ia akan senggsara bila hidupnya bertentangan dengan fitrahnya. Di antara fitrah manusia antara lain:

Ø Fitrah ingin bersama. Manusia tidak bisa hidup sendiri, ia makhluk sosial yang senantiasa memerlukan kepada orang lain. Sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai pasangan hidup (suami/istri), sebagai keturunan ( anak cucu) dan lain sebagainya.

Ø Dorongan biologis. Libido seksual manusia yang sehat selalu berkembang dan memerlukan penyaluran. Apabila terkekang maka akan mengebiri potensi manusia itu sendiri. Penyaluran libido seks yang bertanggung jawab akan meningkatkan kuwalitas dan vitalitas manusia. Menikah adalah satu-satunya penyaluran yang bertanggung jawab yang diajarkan Islam.

Ø Ingin kedamaian. Kedamaian bisa diraih melalui lembaga penikahan yang baik dan benar di bawah tuntunan agama.

Tuntutan sosial. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk melaksanakan pernikahan, tuntutan sosial itu antara lain:

Ø Tuntutan Pribadi

Ø Pribadi yang sehat dan bertanggung jawab akan menuntut dirinya untuk menikah dan mencari pasangan hidup. Pribadi yang tidak ingin menikah sementara kondisinya sudah memungkinkan adalah pribadi yang sakit dan akan menjadi penyakit di masyarakat.

Ø Tuntutan keluarga

Ø Menikah juga merupakan tuntutan keluarga, terlebih bila kondisi sudah memungkinkan untuk itu. Sebuah keluarga yang baik, tentu tidak bercita-cita untuk mengoleksi bujang-bujang dan gadis-gadis yang tidak mau menikah. Pernikahan bagi keluarga adalah kelanjutan dari sejarah dan cita-citanya.

Ø Tuntutan Masyarakat

Ø Masyarakat yang sehat akan menuntut individu yang ada di dalamnya untuk menikah. Sebab masyarakat memilki tanggung jawab yang harus diemban. Adanya keluarga baru, berarti bertambahnya orang yang akan mengemban beban masyarakat, dan mengurangi satu bebannya.

Ø Tuntutan profesi dan prestasi

Ø Seseorang ingin mencapai cita-citanya dan meraih prestasi dalam kariernya. Orang yang sampai pada puncak prestasi dan karier akan merasa gersang dan kering bila tidak memilki tanggung jawab rumah tangga. Apalah arti semua itu bila tidak bisa dirasakan oleh orang-orang yangh dikasihinya, suami istri, maupun anak-anaknya. Rumah tangga adalah muara dari profesi dan prestasi.

4. Tuntutan perjuangan dan dakwah

Menikah adalah tuntutan perjuangan dan dakwah. Perjuangan sangatlah berat, apalagi bagi mereka yang memiliki idealisme dan cita-cita perjuangan. Suka duka perjuangan akan mudah dilaluinya dalam keharmonisan rumah tangga, sebaliknya perjuangan akan rentan dengan kegagalan dan penyelewengan bila jiwa tidak stabil. Rumah tangga adalah salah satu pilar stabilitas jiwa. Bagi perjuangan dakwah menikah merupakan:

Ø Perlindungan diri aktivis. perjuangan yang bersih memerlukan aktifis yang bersih dan bermoral. Menikah adalah salah satu pelindung aktivis dakwah dari kegagalan dan penyimpangan dari idealisme perjuangan.

Ø Aplikasi Tarbiyah. Sebuah perjuangan - terutama perjaungan Islam- haruslah dimulai dengan tarbiyah dan pembinaan individunya. Memang tarbiah bukan segala-galanya, namun segala-galanya harus dimulai dari tarbiah. Berumah tangga adalah fase berikutnya. Perjuangan akan mandul, bila aktifisnya enggan atau tidak mau menikah.

Ø Pelanjut estafeta cita-cita perjuangan

Ø Cita-cita perjuangan dakwah tidak mesti bisa diwujudkan dalam satu generasi. Ukuran keberhasilan bukanlah usia sang pejuang, tapi ukuran keberhasilan adalah keberhasilan peradaban. Perjuangan sangatlah panjang. Memerlukan generasi penerus yang akan membawa tongkat estafet menuju keberhasilan dan kegemilangan.

5. Tuntutan realita

Menikah juga merupakan tuntutan realita, artinya realita masyarkat saat ini dengan segala problematikanya menuntut anggota masyarakat untuk menikah.

6. Tuntutan prioritas

Menikah adalah merupakan tuntutan bagi orang yang memang priroitasnya utamanya menikah. Orang yang prioritasnya menikah, namun tidak mau menikah, maka kerugian dan penyesalan yang akan dirasakan.

Menikah seharusnya juga memiliki orientasi, karena tanpa oirientasi , bisa-bisa pernikahan hanya menjadi sekedar pemuas nafsu seksual. Sebuah rumah tangga yang hanya berorientasikan syahwat, akan gagal dan layu dalam sekejap. Karena itu, sebuah lembaga pernikahan hendaknya mempunyai orientasi untuk:

Mendirikan rumah ibadah

Menikah adalah ibadah, maka sejatinya pula bersendikan ibadah dan dimulai dengan niat dan cara yang baik. Akhirnya rumah tangga selalu bernuansakan ibadah. Aktivitas selurah anggota keluarga adalah ibadah, baik sebagai suami istri, anak dan lain sebagainya. Ketika motivasi ibadah mendominasi aktifitas rumah tangga, maka keharmonisan akan bisa di raih dan bisa dipertahankan.

Mendirikan rumah ilmu

Orientasi keilmuan juga harus merupakan orientasi rumah tangga. Rumah tangga yang berorientasi kelimuan akan melahirkan anggota-nggota keluarga dan anak keturunan yang berilmu. Orang-orang yang berhasil dalam keilmuan mayoritasnya memang tumbuh dan besar dari lingkungan yang berilmu. Ulama-ulamna besar Islam kebanyakan tumbuh dalam suasana keluarga yang menghargai ilmu.

Mendirikan rumah dakwah

Hendaknya orientasi menikah juga untuk mendirikan rumah dakwah. Bila individu adalah urat nadi pergerakan dan perjuangan dakwah, maka rumah tangga adalah lembaga untuk mensuplai kekuatan bagi urat nadi tersebut.

Mendirikan lembaga pendidikan anak

Harus disadari, menikah akan melahirkan anak dan keturunan. Kesadaran ini mendorong pasangan suami istri untuk menyiapkan diri menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Jangan sampai ada dalam rumah tangga, anak lahir tanpa dikehendaki.

Mendirikan rumah sosial

Rumah tangga adalah bagian dari masyarakat, maka seyogyanya juga menjadi bagian sarana sosial masyarakat dan mempunyai peran untuk meperbaiki masyarakat. Jangan sampai rumah tangga terpisah dari masyarakat.

Mendirikan rumah teladan

Mendirikan rumah teladan (qudwah) bagi masyarakat adalah orientasi mulia dan penting. Setiap rumah tangga akan berlomba-lomba dalam kebaikan, yang akan menjadi contoh bagi keluarga yang lain. Rumah tangga tersebut menjadi contoh dalam banyak hal: akhlaq, ekonomi ,ilmu, sosial,kesederhanaan dan lain sebagainya.

Mengembangkan prestasi dan produktivitas

Pernikahan hendaknya tidak menjadi penghalang dalam mengembangkan prestasi dan produktivitas. Sebab bila terjadi pernikahan akan menjadi beban yang memberatkan dan membosankan.

Persiapan Menikah

Menikah penuh konsekwensi dan tanggung jawab, bukan sekedar suka sama suka. Akad nikah adalah ikatan kesepakatan (mitsaqan ghalidhan) di hadapan Allah dan di hadapan manusia untuk saling bertangung jawab. Masing-masing pihak baik suami maupun istri memiliki kewajiban-kewajiban yang harus diemban, sebelum masing-masing menuntut hak-haknya. Selain itu akad nikah juga merupakan perpindahan tanggung jawab dari orang tua kepada suami. Karenanya, pernikahan memerlukan persiapan-persiapan matang, meliputi: persiapan individu dan keluarga.

1. Persiapan Pribadi .

Bagi yang berniat menikah baik laki-laki maupun perempuan harus menyiapkan dirinya sebaik mungkin. Persiapan yang matang akan menjadikan rumah tangga lebih damai dan kuat. Karena beban tanggung jawab yang berat akan lebih mudah dipikul oleh orang yang memang menyiapkan diri untuk memikulnya. Ppersiapan-persiapan pribadi ini meliputi:

Persiapan Fisik

Fisik yang sehat dan kuat akan lebih ringan dan mudah untuk memikul tanggung jawab, daripada fisik yang kurang sehat. (inna khoiro man ista'jarta al qowiyyul amin). Persiapan fisik ini antara lain: baligh, sehat Lahir dan batin, makan makanan yang sehat dan mempu mengolahnya, menghindari hal-hal yang membahayakan fisik: seperti merokok, minuman keras, menghindari kebiasaan-kebiasaan yang merusak kesehatan, seperti begadang yang berlebihan, mengusahakan pola sehat hidup dan teratur

Persiapan Psikis

Kehidupan rumah tangga tidak selamanya mulus. Masalah dalam kehidupan rumah tangga merupakan sebuah kelaziman. Namun perlu dicermati bahwa lembaga rumah tangga tidak boleh terus-terusan dirumdumg problema, bahkan semestinya masa indah dalam rumah tangga lebih dominan.

Agar mampu mengarungi masa ujian itu, diperlukan persiapan mental yang kuat. Sebab ujian rumah tangga tidak bisa di tebak , terkadang besar terkadang kecil. Mental yang kuat akan lebih mampu mengarungi berbagai poblematika tersebut. Persiapan tersebut antara lain: siap beradaptasi dengan suami/istri, siap berbagi rasa, kesabaran

Persiapan Ruhani (spiritual dan emosional).

Ruhani adalah merupakan pilar keutuhan rumah tangga yang paling kuat. Ia mampu memberikan kekuatan luar biasa bagi lembaga perkawinan untuk tetap bertahan dan mampu maju. Maka kekuatan ruhani rumah tangga harus senantiasa fit dan terjaga. Problema berat sekalipun, akan bisa dilalui bila ruhani rumah tangga kuat. Namun masalah yang kecil akan menghancurkan bangunan rumah tangga bila ruhani kropos.

Karenanya, persiapan ruhani sangat perlu bagi calon suami maupun bagi calon istri. Diantara persiapan ibadah ini antara lain adalah: mandiri dalam ibadah, ibadah tidak menjadi beban, akan tetapi ia sudah menjadi akhlaq. Mampu menjaga ibadah dalam keadaan darurat.

Dan mampu mengajarkan ibadah yang benar untuk anak.

Persiapan Ilmu (intelektual)

Rumah yang ingin dibangun adalah rumah ilmu, karena ilmulah yang akan menjaga stabilits visi dan misi keluarga yang diikrarkan bersama sejak awal menikah. Maka budaya kelimuan harus selalu dihidupkan. Diantara nuansa keilmuan di rumah adalah keterbukaan, demokratis, mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan penuh tanggung jawab, dialogis.

Diantara ilmu-ilmu yang diperlukan antara lain: ilmu agama, ilmu kerumah tanggaan, ilmu kesehatan, ilmu ketrampilan, ilmu jiwa dan sosial, ilmu mendidik anak.

Persiapan keahlian dan ketrampilan (skill)

Masing-masing calon pasangan hendaknya menyiapkan diri dengan berbagai ketrampilan semampu mungkin. Keterampilan adalah bekal yang tidak memberatkan. Hal ini sangat perlu, karena kondisi ekonomi tidak menentu.

Sang istri tidak boleh hanya mengandalkan dari gaji suami, sebab sewaktu-waktu suami meninggal, kondisi rumah tangga dan kondisi pendidikan anak tidak mengalami kegoncangan.

Persiapan Keluarga

Menikah bukan hanya menjadi proyek pribadi , tetapi juga proyek keluarga dan proyek masyarakat (sanak kerabat). Persiapan untuk menikah bukan hanya dari individu, akan tetapi harus diikuti oleh persiapan keluarga. Berapa banyak pengalaman orang yang telah sepakat ingin menikah, tidak disetujui oleh keluarganya yang berakhir dangan kekecewaan, baik kekecewaan keluarga maupun kedua calon pasangan suami istri tersebut. Diantara persiapan keluarga tersebut antara lain:

Izin Orang tua. Karena terkandung dalam izin orang tua tersebut antara lain: Perkawinan yang direstui oleh kedua orang tua dari keluarga kedua belah pihak lebih dekat keberkahan Allah yang akan turun dalam rumah tangga tersebut. Izin adalah restu, restu orang tua mendekatkan kita kepada rahmat Allah. Izin mengandung toleransi dari orang tua, artinya bila ada berbagai kondisi dalam rumah tangga yang akan kita bangun kelak, maka orang tua akan memberikan toleransinya, sehingga rumah tangga akan mudah untuk keluar dari problematikanya. Izin orangtua juga identik dengan tanggung jawab, artinya bila ada hal-hal yang tidak kita rencanakan , maka keikutsertaan orang tua untuk bertanggung jawab sangat diperlukan.

Terhadap Calon Suami/Istri

Hendaknya keluarga, menerima calon pasangan apa adanya. Bukan menerima karena terpaksa. karena penerimaan dengan sukarela dari orangtua dan sanak keluarga akan meringankan beban rumah tangga baru.

Terhadap Mahar dan permintaan-permintaan perkawinan

Hendaknya kedua belah pihak mengusahakan untuk terjadinya perkawinan. Mahar dan permintaaan-permintaan perkawinan jangan sampai memeberatkan kedua belah pihak, apalagi sampai menjadi penyebab gagalnya perkawinan tersebut.

Penting diingat bahwa mahar bukan harga seorang wanita. Mahar untuk mencari berkah. Sabda Rasululla Saw. wanita yang paling sedikit maharnya adalah yang paling banyak berkahnya. Mahar juga bisa membangkitkan kecintaan suami dan tidak membebani calon suami. Begitu juga permintaan-permintaan pernikahan. Kedua belah pihak harus menyesuaikan dan saling mengerti. Karena kalau menjadi beban akan mengurangi keharmonisan kehidupan suami istri.

Penutup

Menikah saat kuliah atau pasca kuliah, tentu tidak akan lepas dari peluang dan tantangan. Permasalahan keluarga bisa menimpa siapa saja: pasangan muda, tua atau sedang. Juga bisa dialami oleh orang biasa, aktifis atau ustadz/ulama sekalipun. Rasulullahpun pernah menawarkan perceraian kepada para isterinya. Permasalahan-permasalahan ini sangat kuat dilatarbelakangi oleh beragam kekurangan dan setumpuk perbedaan. Masing-masing pasangan dituntut untuk memiliki kesadaran bahwa disamping banyaknya potensi kekurangan dan perbedaan, mereka juga mempunyai banyak potensi persamaan: agama, pemikiran, cita-cita dan lain-lain. Berangkat dari kesadaran ini, ridla (idza jaa akum man tardlauna diinahu wa khuluquhu…) dan persiapan yang matang menjadi suatu keniscayaan. Tidak perlu terlalu memimpikan kesempurnaan masing-masing pasangan seperti malaikat atau bidadari.

Jika niat suci dan azam sudah ditambatkan, pantang kaki mundur ke belakang. Tapi tidak boleh dilupakan juga bahwa kunci dari segalanya adalah taufik dan taqdir Allah. Ana Uriid, anta turiid wa nahnu nuriid, wallahu yaf'alu ma yuriid. Wallahu waliyyuttawfiq.

Next
Previous